Sabtu, 26 Mei 2012
PIALA BERGILIR SSC MENJADI HAK MILIK
Mulai
dari hari pertama, hawa kompetisi mulai terasa. Namun yel-yel yang terus
bergema mampu mencairkan suasana. Meski dipundak mereka ada beban mengharumkan
nama gudepnya, tapi mereka berusaha untuk tetap menikmati setiap kegiatan. Hal
yang begitu berkesan, adalah ketika pengumuman pemenang. “Dag...dig....dug...hatiku.” nyanyianku menggoda irfan yang sedang menghitung rekap
nilai. Pasalnya nilai yang diperoleh gudep Buya Hamka memiliki nilai yang sama
dengan gudep lain pendatang baru (Pandar). Kini saatnya pembacaan pemenang modern dance. Lomba terakhir ini yang
akan menentukan, siapa diantara kedua gudep ini yang akan menjadi juara. Tereng...tengteng......
“dan juara 1 modern dance SSC IV tahun
2012 adalah.................. buya hamka.” Teriak sang MC. Alhamdulillah,
sorak gembira, serta haturan syukur bergema. Adik-adik yang ikut lomba segera
sujud syukur mendengar berita kemenangan yang mereka raih. Selamat ya.
Tatap Muka dengan KaMabiran Pontianak Kota
Jumat
pagi (27/4/2012), Pak Camat Pontianak Kota meluangkan waktu disela kesibukannya
untuk bertatap muka dengan orang tua
anggota pramuka yang akan mewakili kecamatan ini mengikuti LT 3. Alhamdulillah,
setelah melalui LT II beberapa waktu lalu, Regu Rajawali dan Regu Matahari yang
berpangkalan di MTsN 2 berhasil menjadi Regu Berpretasi Putra dan Putri. Lalu
kedua regu ini berhak menjadi perwakilan di laga LT III.
Meski surat
yang disampaikan hanya berselang satu hari dari tanggal yang tertera, tapi
antusias orang tua untuk bertemu KaMabiran Pontianak Kota tidak surut. Tidak
hanya itu, pertemuan ini juga dihadiri oleh Sekretaris camat, Kepala dan Waka Kesiswaan MTsN 2, KaKwaran Pontianak
Kota, Pengurus Ranting Pontianak Kota, dan Pembina serta Kordinator Pramuka
Gudep Buya Hamka.
Mulai
jam 8 pagi, rapat tersebut dimulai. Isi rapat tersebut berkisar tentang hal-hal
yang harus dipersiapkan, pendanaan, dan lain-lain. Kesiapan fisik dan mental adik-adik untuk
berlomba, tidak akan menghasilkan apa-apa jika tidak didukung oleh pihak-pihak
lain yang disebutkan diatas. Maka dari itu, semua pihak yang terkait diharapkan
untuk bersinergi agar adik-adik yang membawa nama Pontianak Kota ini dapat
membawa harum tempat asalnya.
Geng motor jadul
02.10
No comments
Tahukah
Kamu Geng Motor Ada Sejak Jaman Belanda
Kasus kejahatan oleh Geng Sepeda Motor akhir-akhir ini sangat meresahkan masyarakat. Siapa pun yang terlibat di dalamnya, entah oknum aparat atau bukan, aksi anarkis hingga mengambil nyawa orang merupakan aksi kriminal yang sudah tak bisa ditolerir.
Secara tak langsung, masalah ini mempunyai efek buruk terhadap pendidikan generasi penerus bangsa ini. Jangan sampai anak-anak mencontoh kelakuan anggota geng tersebut yang sungguh biadab.
Ternyata, Geng Sepeda Motor sudah ada di Jakarta sejak tahun 1915. Kala itu namanya Motorfietsrijders te Batavia.
Menurut catatan Koninlijk Instituut voor Taal, Land en Volkenkunde (KITLV), sepeda motor masuk ke Indonesia pertama kali dibawa oleh seorang berkebangsaan Inggris, John C. Potter pada tahun 1893.
Sehari-hari J.C. Potter bekerja sebagai Masinis Pertama di pabrik gula Oemboel (baca: Umbul) Probolinggo, Jawa Timur.
J.C. Potter juga dikenal sebagai penjual mobil yang mendapat kepercayaan Sunan Solo untuk mengurusi pengiriman mobil pertamanya dari Eropa.
Dalam buku "Krèta Sètan (de duivelswagen)" dikisahkan bagaimana John C. Potter memesan sendiri sepeda motor itu ke pabriknya, Hildebrand und Wolfmüller, di Muenchen, Jerman.
Sepeda motor itu tiba pada tahun 1893, satu tahun sebelum mobil pertama milik Sunan Solo (merk Benz tipe Carl Benz) tiba di Indonesia. Hal itu menjadikan J.C. Potter sebagai orang pertama di Indonesia yang menggunakan kendaraan bermotor. Selain itu, ada hal yang menarik apabila kita mengamati tahun kedatangan sepeda motor tersebut.
Untuk diketahui, sepeda motor pertama di dunia (Reitwagen) lahir di Jerman pada 1885 oleh Gottlieb Daimler dan Wilhelm Maybach tetapi belum dijual untuk umum. Tahun 1893, sepeda motor pertama yang dijual untuk umum dibuat oleh pabrik sepeda motor Hildebrand und Wolfmüller di Muenchen, Jerman. Sepeda motor ini pertama kali masuk ke Amerika Serikat pada tahun 1895 ketika seorang pemain sirkus asal Perancis membawanya ke New York.
Jadi, meski yang membawanya bukan orang pribumi Indonesia, tetapi sebuah hal yang luar biasa ketika sepeda motor komersial pertama di dunia ternyata langsung dikirim ke Indonesia pada tahun pertama pembuatannya. Terlebih lagi, baru dua tahun kemudian sepeda motor komersial pertama tersebut masuk Amerika Serikat. Jadi, sepeda motor yang pertama kali masuk Indonesia merupakan sepeda motor pertama di dunia juga.
Sepeda motor ini tidak menggunakan rantai dan roda belakang digerakkan langsung oleh kruk as (crankshaft).
Meski berusia ratusan tahun, ternyata motor komersial pertama di dunia ini sudah mengusung teknologi yang sampai saat ini masih dipakai diantaranya adalah twin-silinder horizontal, 4 valve, berpendingin air, dan berkapasitas mesin besar yaitu 1.500 cc dengan bahan bakar bensin atau nafta.
Namun, meski bermesin besar tetapi tenaga kuda yang dihasilkan hanya 2,5HP saja pada 240rpm. Selain itu, sepeda motor ini belum menggunakan persneling, belum menggunakan magnet, belum menggunakan aki (accu), belum menggunakan koil, dan belum menggunakan kabel listrik. Diperlukan waktu sekitar 20 menit untuk menghidupkan dan mestabilkan mesinnya.
Pada tahun 1932, sepeda motor ini ditemukan dalam keadaan rusak di garasi di kediaman John C Potter. Sepeda motor itu teronggok selama 40 tahun di pojokan garasi dalam keadaan tidak terawat dan berkarat. Atas bantuan montir-montir marinir di Surabaya, sepeda motor milik John C Potter itu direstorasi (diperbaiki seperti semula) dan disimpan di kantor redaksi mingguan De Motor.
Sepeda motor antik itu diboyong ke Museum Lalu Lintas (Museum Polisi) di Surabaya yang kemudian pada tahun 1934 disumbangkan ke Museum Negeri Mpu Tantular di Sidoarjo dengan nomer inventaris 10.81 kategori IPTEK namun memberikan deskripsi yang berbeda, yaitu sebagai sepeda motor uap merk Daimler.
Pada 1899, di negeri ini juga sudah hadir sepeda motor listrik beroda tiga yang menggunakan tenaga baterai, yang bernama De Dion Bouton Tricycle buatan Perancis. Sepeda motor listrik beroda tiga itu juga digunakan untuk menarik wagon penumpang.
Sepeda motor De Dion Bouton cukup terkenal di masanya.Sepeda motor lain terlihat pada tahun 1902 yang juga digunakan untuk menarik wagon yaitu sepeda motor Minerva buatan Belgia. Mesin Minerva saat itu juga dipesan dan digunakan pada merk motor lain sebelum bisa membuat mesin sendiri, diantaranya adalah Ariel Motorcycles di Inggris.
Berbagai merek sepeda motor dijual di negeri ini, mulai dari Reading Standard, Excelsior, Harley Davidson, Indian, King Dick, Brough Superior, Henderson, sampai Norton.
Merek-merek sepeda motor yang hadir di negeri ini dapat dilihat dari iklan-iklan sepeda motor yang dimuat di surat kabar pada kurun waktu dari tahun 1916 – 1926.
R.S Stockvis & Zonnen Ltd merupakan salah satu perusahaan yang tercatat menyediakan suku-suku cadang motor dan mobil (juga mengurus pesanan mobil-mobil Eropa maupun Amerika).
Pada 1906, Administratur Bantool (Bantul) di Yogyakarta juga terlihat mempunyai sepeda motor dan beberapa buah mobil. Pada masa itu, memang hanya orang Belanda dan Inggris serta disusul pribumi ningrat yang mempunyai kemampuan membeli sepeda motor pada masa-masa awal.
Seiring dengan pertambahan jumlah mobil, jumlah sepeda motor pun terus bertambah. Lahirlah klub-klub touring sepeda motor, yang anggotanya adalah pengusaha perkebunan dan petinggi pabrik gula.
Kamis, 24 Mei 2012
Ichiki Tatsuo
19.49
No comments
Siapa Ichiki Tatsuo?
KETIKA Jepang menduduki Indonesia pada 1942, apa motif-motivasi yang melandasinya? Tentu ada berbagai alasan mulai dari so-sial, politik, militer, kebudayaan hingga ekonomi. Di antara motif sosialnya ialah membantu Indonesia agar terlepas dari penjajahan Belanda. Atau membantu sesama bangsa Asia untuk dapat mengusir kolonialis Eropa. Maka ketika Jepang pertama kali menginjakkan kaki di Indonesia, bendera matahari terbit bersanding dengan sang merah-putih. Lagu Kimigayo diperdengarkan bersamaan dengan Indonesia Raya. Kesan pertama kehadiran Jepang begitu memukau rakyat Indonesia. Oleh karena itu, rakyat mengelu-elukan kedatangan pasukan "saudara tua" itu, "Banzai .. banzai!" Begitu rakyat mengelu-elukan arak-arakan tentara Jepang. Belanda yang sudah bercokol 350 tahun telah dinyatakan kalah.
Maka, ketika muncul larangan pengibaran bendera merah-putih dan hanya Kimigayo yang boleh diperdengarkan, mulailah rakyat bertanya-tanya, "Mengapa tidak seperti yang dijanjikan?" Dan dimulailah era pendudukan seumur jagung itu.
Di antara orang Jepang, ada juga yang sejak awal percaya pada janji negaranya untuk memerdekakan Indonesia. Misi ke Indonesia baginya adalah tugas kemanusiaan. Di antara mereka yang berpendirian seperti itu adalah Ichiki Tatsuo. Ichiki lahir pada 1906 di kota kecil Taraki, Kumamoto, sebelah selatan Kyushu. Ichiki sangat kecewa dengan adanya pelarangan itu. Ia merasa negaranya telah ingkar janji dan dirinya merasa tertipu.
Ichiki termasuk tim perintis yang masuk ke Jawa, jauh sebelum Nippon menduduki Indonesia. Ia "diselundupkan" dalam berbagai misi kebudayaan sejak pertengahan 1920-an. Tak heran jika ia mampu berbahasa Indonesia secara baik dan menjadi penerjemah utama elite militer Jepang di kemudian hari. Persepsi positif dari kalangan pergerakan Indonesia terhadap Jepang, antara lain berkat pendekatan-pendekatan Ichiki dan kawan-kawannya.
Dalam masa pendudukan Jepang, Ichiki berkecimpung di bidang jurnalistik yang kemudian banyak mempertemukannya dengan Oto Iskandar di Nata, yang juga seorang jurnalis. Kalau Oto memimpin koran Tjahaja, Ichiki menjadi Pemred Asia Raya. Di koran yang dikomando Ichiki inilah, Rosihan Anwar menjadi salah seorang wartawannya.
Dalam sebuah artikel berjudul "Bendera Merah Poetih" (Tjahaja, 21/9/1944), Ichiki menjelaskan hubungannya dengan sejumlah pelajar Indonesia di Tokyo. "Pada tahun 2600 (1940, pen), di Tokyo lahir suatu perhimpunan pemuda Nippon, yang bermaksud hendak menunjang usaha pelajar-pelajar Indonesia di Tokyo, untuk mempercepat kemerdekaan Indonesia, dan kedua golongan itu acap kali berkumpul di suatu rumah yang menjadi asrama bagi pemuda-pemuda itu".
Di antara para pemuda Indonesia itu terdapat Mr. Sudjono, sarjana hukum yang tidak mau bekerja untuk Belanda dan memilih bekerja di Jepang. Ia menjadi guru kelas Melayu di Tokyo Gaigo. Dalam pertemuan awal para pemuda dua negara itu, Sudjono tanpa ragu menampakkan kegembiraannya. "Kami merasa sangat girang, terharu, karena melihat bendera merah putih, bendera kebangsaan kita di samping bendera matahari terbit".
Lewat kerja sama antar-pemuda itulah dilakukan berbagai kampanye mengenai Indonesia kepada masyarakat Jepang. Mereka memperkenalkan pemuka dan tokoh Indonesia, menulis riwayat kebangsaan di koran dan majalah, mengadakan pidato kebudayaan, dll. Kelompok ini pula yang mengupayakan perekaman lagu Indonesia Raya yang diperdengarkan di radio ketika Jepang mulai mendarat di Indonesia. Perekaman lagu untuk disiarkan lewat radio ke Indonesia, supaya bangsa Indonesia yakin akan sokongan Nippon yang hendak melepaskan bangsa dari kungkungan Belanda. Perekaman itu dibantu penyanyi tenar Jepang saat itu, Yamada Kosaku. Ia melatih sejumlah penyanyi Jepang untuk merekam lagu Indonesia Raya.
Ketika Jepang mulai mempertahankan watak militeristiknya yang fasis, para pemuda ini kecewa. Bahkan kekecewaan seorang Ichiki direalisasikan dengan bergabung menjadi warga Indonesia. Ia rela gugur sebagai kusuma bangsa yang sebenarnya asing bagi dirinya, tapi bangsa itu melekat dalam sanubarinya. Di antara tentara Jepang yang disebut fasis itu ternyata ada orang semacam Ichiki yang sangat humanis. Nasionalisme baginya bukan lagi ikatan primordial kebangsaan tertentu, melainkan kemanusiaan seutuhnya. Itulah makna gugurnya "saudara tua" kita itu di Semeru Selatan. Ia mati demi mempertahankan kemerdekaan yang hakiki, kemerdekaan jiwa dan raga dari berbagai ketamakan manusia
KETIKA Jepang menduduki Indonesia pada 1942, apa motif-motivasi yang melandasinya? Tentu ada berbagai alasan mulai dari so-sial, politik, militer, kebudayaan hingga ekonomi. Di antara motif sosialnya ialah membantu Indonesia agar terlepas dari penjajahan Belanda. Atau membantu sesama bangsa Asia untuk dapat mengusir kolonialis Eropa. Maka ketika Jepang pertama kali menginjakkan kaki di Indonesia, bendera matahari terbit bersanding dengan sang merah-putih. Lagu Kimigayo diperdengarkan bersamaan dengan Indonesia Raya. Kesan pertama kehadiran Jepang begitu memukau rakyat Indonesia. Oleh karena itu, rakyat mengelu-elukan kedatangan pasukan "saudara tua" itu, "Banzai .. banzai!" Begitu rakyat mengelu-elukan arak-arakan tentara Jepang. Belanda yang sudah bercokol 350 tahun telah dinyatakan kalah.
Maka, ketika muncul larangan pengibaran bendera merah-putih dan hanya Kimigayo yang boleh diperdengarkan, mulailah rakyat bertanya-tanya, "Mengapa tidak seperti yang dijanjikan?" Dan dimulailah era pendudukan seumur jagung itu.
Di antara orang Jepang, ada juga yang sejak awal percaya pada janji negaranya untuk memerdekakan Indonesia. Misi ke Indonesia baginya adalah tugas kemanusiaan. Di antara mereka yang berpendirian seperti itu adalah Ichiki Tatsuo. Ichiki lahir pada 1906 di kota kecil Taraki, Kumamoto, sebelah selatan Kyushu. Ichiki sangat kecewa dengan adanya pelarangan itu. Ia merasa negaranya telah ingkar janji dan dirinya merasa tertipu.
Ichiki termasuk tim perintis yang masuk ke Jawa, jauh sebelum Nippon menduduki Indonesia. Ia "diselundupkan" dalam berbagai misi kebudayaan sejak pertengahan 1920-an. Tak heran jika ia mampu berbahasa Indonesia secara baik dan menjadi penerjemah utama elite militer Jepang di kemudian hari. Persepsi positif dari kalangan pergerakan Indonesia terhadap Jepang, antara lain berkat pendekatan-pendekatan Ichiki dan kawan-kawannya.
Dalam masa pendudukan Jepang, Ichiki berkecimpung di bidang jurnalistik yang kemudian banyak mempertemukannya dengan Oto Iskandar di Nata, yang juga seorang jurnalis. Kalau Oto memimpin koran Tjahaja, Ichiki menjadi Pemred Asia Raya. Di koran yang dikomando Ichiki inilah, Rosihan Anwar menjadi salah seorang wartawannya.
Dalam sebuah artikel berjudul "Bendera Merah Poetih" (Tjahaja, 21/9/1944), Ichiki menjelaskan hubungannya dengan sejumlah pelajar Indonesia di Tokyo. "Pada tahun 2600 (1940, pen), di Tokyo lahir suatu perhimpunan pemuda Nippon, yang bermaksud hendak menunjang usaha pelajar-pelajar Indonesia di Tokyo, untuk mempercepat kemerdekaan Indonesia, dan kedua golongan itu acap kali berkumpul di suatu rumah yang menjadi asrama bagi pemuda-pemuda itu".
Di antara para pemuda Indonesia itu terdapat Mr. Sudjono, sarjana hukum yang tidak mau bekerja untuk Belanda dan memilih bekerja di Jepang. Ia menjadi guru kelas Melayu di Tokyo Gaigo. Dalam pertemuan awal para pemuda dua negara itu, Sudjono tanpa ragu menampakkan kegembiraannya. "Kami merasa sangat girang, terharu, karena melihat bendera merah putih, bendera kebangsaan kita di samping bendera matahari terbit".
Lewat kerja sama antar-pemuda itulah dilakukan berbagai kampanye mengenai Indonesia kepada masyarakat Jepang. Mereka memperkenalkan pemuka dan tokoh Indonesia, menulis riwayat kebangsaan di koran dan majalah, mengadakan pidato kebudayaan, dll. Kelompok ini pula yang mengupayakan perekaman lagu Indonesia Raya yang diperdengarkan di radio ketika Jepang mulai mendarat di Indonesia. Perekaman lagu untuk disiarkan lewat radio ke Indonesia, supaya bangsa Indonesia yakin akan sokongan Nippon yang hendak melepaskan bangsa dari kungkungan Belanda. Perekaman itu dibantu penyanyi tenar Jepang saat itu, Yamada Kosaku. Ia melatih sejumlah penyanyi Jepang untuk merekam lagu Indonesia Raya.
Ketika Jepang mulai mempertahankan watak militeristiknya yang fasis, para pemuda ini kecewa. Bahkan kekecewaan seorang Ichiki direalisasikan dengan bergabung menjadi warga Indonesia. Ia rela gugur sebagai kusuma bangsa yang sebenarnya asing bagi dirinya, tapi bangsa itu melekat dalam sanubarinya. Di antara tentara Jepang yang disebut fasis itu ternyata ada orang semacam Ichiki yang sangat humanis. Nasionalisme baginya bukan lagi ikatan primordial kebangsaan tertentu, melainkan kemanusiaan seutuhnya. Itulah makna gugurnya "saudara tua" kita itu di Semeru Selatan. Ia mati demi mempertahankan kemerdekaan yang hakiki, kemerdekaan jiwa dan raga dari berbagai ketamakan manusia
Ichiki Tatsuo alias Abdul Rahman (1906 - 1949)
Lahir di Taraki, Kyushu Selatan tahun 1906, anak ke-tiga dari enam bersaudara dari keluarga Samurai yg mengabdi pada klan Sagara, masuk Kristen dan dibaptis atas nama Sebastian.
Di Indonesia dia jadi salah satu pejuang dan masuk Islam dengan mengganti namanya menjadi Abdul Rahman. Beliau gugur di Dampit, Malang, Jawa Timur tanggal 3 Januari 1949 ketika terjadi pertempuran dengan Belanda untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Semoga Tuhan memberikan tempat yg layak untuk beliau atas jasanya terhadap Bangsa dan Negara Indonesia.
Lahir di Taraki, Kyushu Selatan tahun 1906, anak ke-tiga dari enam bersaudara dari keluarga Samurai yg mengabdi pada klan Sagara, masuk Kristen dan dibaptis atas nama Sebastian.
Di Indonesia dia jadi salah satu pejuang dan masuk Islam dengan mengganti namanya menjadi Abdul Rahman. Beliau gugur di Dampit, Malang, Jawa Timur tanggal 3 Januari 1949 ketika terjadi pertempuran dengan Belanda untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Semoga Tuhan memberikan tempat yg layak untuk beliau atas jasanya terhadap Bangsa dan Negara Indonesia.
memang ada interfensi dan tuduhan dari sekutu tentang campur tangan jepang dalam perumusan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia..
siapa aja yg duduk disitu..sebagian orang pendahulu kita memang mengetahui cerita yg sebenarnya..
terlepas dari itu semua..
Bung Karno juga mengakui bahwa orang-orang Jepang secara pribadi tidak sedikit yang ikut berjuang bersama-sama bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan. Untuk menghargai jasa-jasa mereka, khususnya Ichiki Tatsuo dan Yoshizumi Tomegoro, pada tanggal 15 Februari 1958, ketika Bung Karno berada di Tokyo menyerahkan kepada SHIGETADA NISHIJIMA teks sebuah prasasti untuk disimpan di biara Buddha Shei Shoji di Minatoku, Tokyo..
Nishijima adalah tangan kanan sekaligus penerjemah bagi Laksamana Tadashi Maeda..
"Issei" Tanaka, dari Fuji ke
Merapi
Kompas,Rabu, 16 April 2008 | 01:46 WIB
Ahmad Arif
Dalam selimut halimun yang mulai turun dari lereng Gunung Merapi suatu sore, Abdul Rosid, 101 tahun, menyambut kami dengan bahasa Jepang. Dia paksa tubuh rentanya membungkuk dalam, menghormat kepada tamu khas orang Jepang.
Hari-hari ini Bapak memang sering bicara dalam bahasa Jepang. Mungkin dia kangen dengan masa kecilnya,” kata Masako (55), anak keempat Abdul Rosid, yang menemaninya tinggal di Kaliurang, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta.
Abdul Rosid, yang nama aslinya Yukitoshi Tanaka, memang berasal dari Jepang. Dia adalah satu dari enam issei atau generasi pertama Jepang di Indonesia, yang masih hidup hingga kini.
Perjalanan nasib manusia memang tak pernah bisa disangka-sangka. Tanaka tak pernah mengira bisa hidup selama ini saat memutuskan tinggal di Indonesia setelah Jepang menyerah kalah dalam Perang Dunia II. Hidupnya pernah teramat sulit dan beberapa kali nyaris dijemput maut.
Tanaka lahir pada 20 Oktober 1907 di kabupaten Tottori, Jepang. Bulan Juni 1942 dia meninggalkan Jepang menuju Indonesia untuk menjadi tenaga kontrak di Nanpo Kuzutetsu Tosei Kumiai (Koperasi Kontrol Besi Tua Kawasan Selatan). Tugasnya, mengumpulkan besi tua sebagai bahan membuat senjata dalam Perang Dunia II.
Dengan seragam tentara, walaupun tanpa tanda pangkat—karena statusnya sebagai tenaga sipil—Tanaka naik kapal dari Pelabuhan Ujina, Hiroshima, dan tiba di Tanjung Priok, Batavia. Sejak saat itu hingga kini, ketika usianya mencapai seabad lebih, Tanaka menetap di Pulau Jawa.
Saat pendudukan Jepang di Indonesia, Tanaka ditempatkan di Bandung. Di kota itu dia kecantol mojang priangan, Eulis. Mereka menikah tahun 1943.
Pusaran Perang Pasifik
Tanaka hanyalah ”sekrup kecil” dalam pusaran Perang Pasifik. Awal tahun 1940-an, jutaan pemuda Jepang berbondong ke luar negeri untuk mengambil alih negara-negara di Asia selatan yang saat itu dicengkeram penjajah dari dunia Barat.
Orang-orang muda Jepang itu terbakar semangat penyatuan Asia Pasifik yang didengungkan kekaisaran. ”Saya harus mendukung tanah air,” kenang Tanaka.
Namun, sebagian pemuda Jepang diam-diam memendam kekecewaan kepada kekaisaran ketika menemui kenyataan bahwa kehadiran mereka di Indonesia adalah sebagai penjajah baru. Orang-orang muda ini segera bergabung dengan para pemuda Indonesia yang tengah mempersiapkan kemerdekaan.
Bagi para serdadu yang diam-diam telah bersimpati kepada rakyat Indonesia itu, kekalahan Jepang dalam Perang Pasifik adalah pintu gerbang untuk bergabung dengan pergerakan rakyat Indonesia melawan agresi Belanda yang membonceng tentara Sekutu.
Dalam catatan Yayasan Warga Persahabatan, yayasan yang dibentuk mantan serdadu Jepang yang tinggal di Indonesia, jumlah tentara Jepang yang tidak kembali ke negara asal setelah tahun 1945 mencapai 2.000 orang. Sebanyak 1.500 orang tewas dalam perang melawan Belanda.
Hingga kini tinggal enam orang yang masih hidup, satu di antaranya adalah Abdul Rosid atau Yukitoshi Tanaka. Sebanyak 28 orang Jepang, yang berstatus veteran Indonesia, dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Kisah tentang mantan serdadu Jepang yang ikut pemuda Indonesia berperang melawan Belanda banyak muncul di daerah. Misalnya kisah tentang Ichiki Tatsuo, yang memimpin perlawanan rakyat terhadap Belanda di Dampit, Malang—sebagaimana dituturkan dalam buku Pemberontakan Indonesia pada Masa Pendudukan Jepang, penerbit Obor, 1988. Ichiki Tatsuo yang telah mengganti namanya dengan Abdul Rachman tewas diterjang peluru Belanda dalam pertempuran tanggal 9 Januari 1949.
Akan tetapi, bertahun-tahun pascakemerdekaan, kisah kepahlawanan mantan serdadu Jepang itu banyak terbungkam oleh kisah kekejaman kempetai pada romusha dan kisah penuh haru-biru tentang jugun ianfu.
Dari Fuji ke Merapi
Bagi Tanaka, keputusan untuk menetap dan membantu perjuangan rakyat Indonesia melawan agresi Belanda awalnya dilandasi rasa bimbang. ”Bagaimana nasib saya jika tetap di Indonesia? Namun, bagaimana harus menanggung malu jika pulang ke Jepang?” kenang Tanaka. Kekalahan, dalam pikiran Tanaka, lebih buruk dibandingkan dengan kematian.
Tanaka kemudian memilih menetap di Indonesia, lebih karena rasa tanggung jawabnya kepada Eulis dan Yuriko, anak pertama mereka yang waktu itu berumur dua tahun. Namun, perjalanan mengungsi membawa Tanaka bertemu dengan pasukan Siliwangi yang tengah bergerilya.
Setelah sempat dicurigai sebagai mata-mata Belanda dan ditahan oleh Badan Keamanan Rakyat, Tanaka kemudian justru diangkat sebagai anggota kesatuan itu. Tugasnya, mengintai pergerakan tentara Belanda.
Tanaka dan keluarganya mengikuti pergerakan pasukan Siliwangi hingga ke Yogyakarta. Di kota itu dia bertemu dengan Suryadarma, Komandan Angkatan Udara Tentara Indonesia, yang semasa penjajahan Jepang pernah berhubungan baik dengan Tanaka. Dia lalu bergabung dengan Angkatan Udara.
Sejak tahun 1951 dia menetap di Kaliurang, dengan surat tugas resmi dari Angkatan Udara Republik Indonesia sebagai pengelola Rumah Kesehatan Kaliurang—sekarang menjadi Hostel Vogel. Di lereng Gunung Merapi itulah Tanaka membesarkan delapan anaknya.
Sesekali Tanaka diminta membantu proyek Jepang di Indonesia, misalnya pembangunan Hotel Ambarukmo yang didanai dengan dana pampasan perang Jepang. Pada 17 Agustus 1995, Tanaka, yang berstatus veteran Tentara Indonesia ini, mendapat penghargaan atas jasa-jasa pengembangan persahabatan Indonesia-Jepang dari Duta Besar Jepang.
Bagi Tanaka, Gunung Merapi ibarat hidupnya yang kedua. Hidupnya yang pertama di bawah naungan Gunung Fuji. ”Saya menjalankan kehidupan kedua ini dengan nama Abdul Rosid. Saya berusaha menjaga sikap tidak mendahulukan kepentingan sendiri, menjauhkan diri dari sifat rakus, serta tidak mengganggu orang lain. Saya mengharapkan bisa berperan sebagai salah satu batang kayu penjaga jembatan penghubung Jepang dan Indonesia,” tulis Tanaka dalam buku kecil Tapak Tilas Tanaka, yang dibuat keluarganya menyambut ulang tahun ke-100 Tanaka, Oktober 2007.
”Saya yakin, apa yang saya lakukan tidak salah, asalkan anak-anak saya, tiga laki-laki dan lima perempuan, masing-masing bisa menunjukkan kehidupan yang benar sebagai orang Indonesia yang mewarisi darah Jepang...,” tambah Tanaka.
Hari-hari Tanaka kini sepi semenjak Eulis meninggal tahun 1997.
”Saya melewati sisa-sisa kehidupan ini dengan rasa sepi, bagaikan angin bertiup dari celah pintu,” ujarnya.
Kompas,Rabu, 16 April 2008 | 01:46 WIB
Ahmad Arif
Dalam selimut halimun yang mulai turun dari lereng Gunung Merapi suatu sore, Abdul Rosid, 101 tahun, menyambut kami dengan bahasa Jepang. Dia paksa tubuh rentanya membungkuk dalam, menghormat kepada tamu khas orang Jepang.
Hari-hari ini Bapak memang sering bicara dalam bahasa Jepang. Mungkin dia kangen dengan masa kecilnya,” kata Masako (55), anak keempat Abdul Rosid, yang menemaninya tinggal di Kaliurang, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta.
Abdul Rosid, yang nama aslinya Yukitoshi Tanaka, memang berasal dari Jepang. Dia adalah satu dari enam issei atau generasi pertama Jepang di Indonesia, yang masih hidup hingga kini.
Perjalanan nasib manusia memang tak pernah bisa disangka-sangka. Tanaka tak pernah mengira bisa hidup selama ini saat memutuskan tinggal di Indonesia setelah Jepang menyerah kalah dalam Perang Dunia II. Hidupnya pernah teramat sulit dan beberapa kali nyaris dijemput maut.
Tanaka lahir pada 20 Oktober 1907 di kabupaten Tottori, Jepang. Bulan Juni 1942 dia meninggalkan Jepang menuju Indonesia untuk menjadi tenaga kontrak di Nanpo Kuzutetsu Tosei Kumiai (Koperasi Kontrol Besi Tua Kawasan Selatan). Tugasnya, mengumpulkan besi tua sebagai bahan membuat senjata dalam Perang Dunia II.
Dengan seragam tentara, walaupun tanpa tanda pangkat—karena statusnya sebagai tenaga sipil—Tanaka naik kapal dari Pelabuhan Ujina, Hiroshima, dan tiba di Tanjung Priok, Batavia. Sejak saat itu hingga kini, ketika usianya mencapai seabad lebih, Tanaka menetap di Pulau Jawa.
Saat pendudukan Jepang di Indonesia, Tanaka ditempatkan di Bandung. Di kota itu dia kecantol mojang priangan, Eulis. Mereka menikah tahun 1943.
Pusaran Perang Pasifik
Tanaka hanyalah ”sekrup kecil” dalam pusaran Perang Pasifik. Awal tahun 1940-an, jutaan pemuda Jepang berbondong ke luar negeri untuk mengambil alih negara-negara di Asia selatan yang saat itu dicengkeram penjajah dari dunia Barat.
Orang-orang muda Jepang itu terbakar semangat penyatuan Asia Pasifik yang didengungkan kekaisaran. ”Saya harus mendukung tanah air,” kenang Tanaka.
Namun, sebagian pemuda Jepang diam-diam memendam kekecewaan kepada kekaisaran ketika menemui kenyataan bahwa kehadiran mereka di Indonesia adalah sebagai penjajah baru. Orang-orang muda ini segera bergabung dengan para pemuda Indonesia yang tengah mempersiapkan kemerdekaan.
Bagi para serdadu yang diam-diam telah bersimpati kepada rakyat Indonesia itu, kekalahan Jepang dalam Perang Pasifik adalah pintu gerbang untuk bergabung dengan pergerakan rakyat Indonesia melawan agresi Belanda yang membonceng tentara Sekutu.
Dalam catatan Yayasan Warga Persahabatan, yayasan yang dibentuk mantan serdadu Jepang yang tinggal di Indonesia, jumlah tentara Jepang yang tidak kembali ke negara asal setelah tahun 1945 mencapai 2.000 orang. Sebanyak 1.500 orang tewas dalam perang melawan Belanda.
Hingga kini tinggal enam orang yang masih hidup, satu di antaranya adalah Abdul Rosid atau Yukitoshi Tanaka. Sebanyak 28 orang Jepang, yang berstatus veteran Indonesia, dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Kisah tentang mantan serdadu Jepang yang ikut pemuda Indonesia berperang melawan Belanda banyak muncul di daerah. Misalnya kisah tentang Ichiki Tatsuo, yang memimpin perlawanan rakyat terhadap Belanda di Dampit, Malang—sebagaimana dituturkan dalam buku Pemberontakan Indonesia pada Masa Pendudukan Jepang, penerbit Obor, 1988. Ichiki Tatsuo yang telah mengganti namanya dengan Abdul Rachman tewas diterjang peluru Belanda dalam pertempuran tanggal 9 Januari 1949.
Akan tetapi, bertahun-tahun pascakemerdekaan, kisah kepahlawanan mantan serdadu Jepang itu banyak terbungkam oleh kisah kekejaman kempetai pada romusha dan kisah penuh haru-biru tentang jugun ianfu.
Dari Fuji ke Merapi
Bagi Tanaka, keputusan untuk menetap dan membantu perjuangan rakyat Indonesia melawan agresi Belanda awalnya dilandasi rasa bimbang. ”Bagaimana nasib saya jika tetap di Indonesia? Namun, bagaimana harus menanggung malu jika pulang ke Jepang?” kenang Tanaka. Kekalahan, dalam pikiran Tanaka, lebih buruk dibandingkan dengan kematian.
Tanaka kemudian memilih menetap di Indonesia, lebih karena rasa tanggung jawabnya kepada Eulis dan Yuriko, anak pertama mereka yang waktu itu berumur dua tahun. Namun, perjalanan mengungsi membawa Tanaka bertemu dengan pasukan Siliwangi yang tengah bergerilya.
Setelah sempat dicurigai sebagai mata-mata Belanda dan ditahan oleh Badan Keamanan Rakyat, Tanaka kemudian justru diangkat sebagai anggota kesatuan itu. Tugasnya, mengintai pergerakan tentara Belanda.
Tanaka dan keluarganya mengikuti pergerakan pasukan Siliwangi hingga ke Yogyakarta. Di kota itu dia bertemu dengan Suryadarma, Komandan Angkatan Udara Tentara Indonesia, yang semasa penjajahan Jepang pernah berhubungan baik dengan Tanaka. Dia lalu bergabung dengan Angkatan Udara.
Sejak tahun 1951 dia menetap di Kaliurang, dengan surat tugas resmi dari Angkatan Udara Republik Indonesia sebagai pengelola Rumah Kesehatan Kaliurang—sekarang menjadi Hostel Vogel. Di lereng Gunung Merapi itulah Tanaka membesarkan delapan anaknya.
Sesekali Tanaka diminta membantu proyek Jepang di Indonesia, misalnya pembangunan Hotel Ambarukmo yang didanai dengan dana pampasan perang Jepang. Pada 17 Agustus 1995, Tanaka, yang berstatus veteran Tentara Indonesia ini, mendapat penghargaan atas jasa-jasa pengembangan persahabatan Indonesia-Jepang dari Duta Besar Jepang.
Bagi Tanaka, Gunung Merapi ibarat hidupnya yang kedua. Hidupnya yang pertama di bawah naungan Gunung Fuji. ”Saya menjalankan kehidupan kedua ini dengan nama Abdul Rosid. Saya berusaha menjaga sikap tidak mendahulukan kepentingan sendiri, menjauhkan diri dari sifat rakus, serta tidak mengganggu orang lain. Saya mengharapkan bisa berperan sebagai salah satu batang kayu penjaga jembatan penghubung Jepang dan Indonesia,” tulis Tanaka dalam buku kecil Tapak Tilas Tanaka, yang dibuat keluarganya menyambut ulang tahun ke-100 Tanaka, Oktober 2007.
”Saya yakin, apa yang saya lakukan tidak salah, asalkan anak-anak saya, tiga laki-laki dan lima perempuan, masing-masing bisa menunjukkan kehidupan yang benar sebagai orang Indonesia yang mewarisi darah Jepang...,” tambah Tanaka.
Hari-hari Tanaka kini sepi semenjak Eulis meninggal tahun 1997.
”Saya melewati sisa-sisa kehidupan ini dengan rasa sepi, bagaikan angin bertiup dari celah pintu,” ujarnya.
Senin, 23 April 2012
Sejarah KTT Asia Afrika
21.32
No comments
Berakhirnya Perang Dunia II pada bulan Agustus 1945,tidak berarti
berakhir pula situasi permusuhan di antara bangsa-bangsa di dunia dan tercipta
perdamaian dan keamanan. Ternyata di beberapa pelosok dunia, terutama dibelahan
bumi Asia Afrika,masih ada masalah dan muncul masalah baru yang mengakibatkan
masalah baru yang mengakibatkan permusuhan yang terus berlangsung,bahkan pada
tingkat perang terbuka, seperti di Jazirah Korea, Indo Cina, Palestina, Afrika
Selatan, Afrika Utara.
Masalah-masalah tersebut sebagian disebabkan oleh lahirnya dua
blok kekuatan yang bertentangan secara ideology maupun kepentingan,yaitu Blok
Barat dan Blok Timur.Blok Barat dipimpin oleh Amerika Serikat dan Blok Timur
dipimpin oleh Uni Sovyet. Tiap-tiap Blok berusaha menarik negara-negara Asia
dan afrika agar menjadi pendukung mereka. Hal ini mengakibatnkan tetap hidupnya
dan bahkan tumbuhnya suasana permusuhan yang terselubung diantara dua Blok itu
dan pendukungnya. Suasana permusuhan tersebut dikenal dengan nama “Perang
Dingin”.
Timbulnya pergolakan didunia disebabkan pula masih adanya penjajahan di bumi kita ini, terutama di belahan Asia dan Afrika. Memang sebelum tahun 1945, pada umumnya dunia Asia dan Afrika merupakan daerah jajahan bangsa Barat dalam aneka bentuk. Tetapi sejak tahun 1945, banyak di daerah Asia Afrika menjadi negara merdeka dan banyak pula yang masih berjuang bagi kemerdekaan negara dan bangsa mereka seperti Aljazair, Tunisia, dan Maroko di wilayah Afrika Utara; Vietnam di Indo Cina; dan di ujung selatan Afrika. Beberapa negara Asia Afrika yang telah merdeka pun masih banyak yang menghadapi masalah-masalah sisa penjajahan seperti Indonesia tentang Irian Barat , India dan Pakistan terpaksa mengungsi, karena tanah air mereka diduduki secara paksa oleh pasukan Israel yang di Bantu oleh amerika Serikat.
Timbulnya pergolakan didunia disebabkan pula masih adanya penjajahan di bumi kita ini, terutama di belahan Asia dan Afrika. Memang sebelum tahun 1945, pada umumnya dunia Asia dan Afrika merupakan daerah jajahan bangsa Barat dalam aneka bentuk. Tetapi sejak tahun 1945, banyak di daerah Asia Afrika menjadi negara merdeka dan banyak pula yang masih berjuang bagi kemerdekaan negara dan bangsa mereka seperti Aljazair, Tunisia, dan Maroko di wilayah Afrika Utara; Vietnam di Indo Cina; dan di ujung selatan Afrika. Beberapa negara Asia Afrika yang telah merdeka pun masih banyak yang menghadapi masalah-masalah sisa penjajahan seperti Indonesia tentang Irian Barat , India dan Pakistan terpaksa mengungsi, karena tanah air mereka diduduki secara paksa oleh pasukan Israel yang di Bantu oleh amerika Serikat.
Sementara itu bangsa-bangsa di dunia, terutama bangsa-bangsa Asia
Afrika, sedang dilanda kekhawatiran akibat makin dikembangkannya senjata nuklir
yang bisa memusnahkan umat manusia. Situasi dalam negeri dibeberapa Asia Afrika
yang telah merdeka pun masih terjadi konflik antar kelompok masyarakat sebagai
akibat masa penjajahan (politik divide et impera) dan perang dingin antar blok
dunia tersebut.
Walaupun pada masa itu telah ada badan internasional yaitu
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berfungsi menangani masalah-masalah
dunia, namun nyatanya badan ini belum berhasil menyelesaikan persoalan
tersebut. Sedangakan kenyataannya, akibtan yang ditimbulkan oleh
masalah-masalah ini, sebagian besar diderita oleh bangsa-bangsa di Asia Afrika.
Keadaan itulah yang melatarbelakangi lahirnya gagasan untuk
mengaakan Konferensi Asia Afrika.
LAHIRNYA IDE KONFERENSI
Keterangan Pemerintah Indonesia tentang politik luar negeri yang
disampaikan oleh Perdana Menteri Mr.Ali Sastroamidjojo, di depan parlemen pada
tanggal 25 Agustus 1953, menyatakan;
“Kerja sama dalam golongan negara-negara Asia Arab (Afrika) kami
pandang penting benar, karena kami yakin, bahwa kerja sama erat negara-negara
tersebut tentulah akan memperkuat usaha ke arah perdamaian dunia yang kekal.
Kerjasama antar negara-negara Asia Afrika tersebut adalah sesuai benar dengan
aturan-aturan dalam PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) yang menyenangi kerjasama
kedaerahan (regional arrangements). Lain dari itu negara-negara itu pada
umumnya memang mempunyai pendirian-pendirian yang sama dalam beberapa soal di
lapangan internasional, jadi mempunyai dasar sama (commonground)untuk
mengadakan golongan yang khusus. Dari sebab itu kerja sama tersebut akan kami
lanjutkan dan pererat”.
Bunyi pernyataan tersebut mencerminkan ide dan kehendak Pemerintah
Indonesia untuk mmmpererat kerja sama di antara negara-negara Asia Afrika.
Pada awal tahun 1954, Perdana Menteri Ceylon (Srilangka) Sir Jhon
Kotelawala mengundang para Perdana Menteri dari Birma (U Nu), India (Jawaharlal
Nehru), Indonesia (Ali Sastroamidjojo), dan Pakistan (Mohammed Ali) dengan
maksud mengadakan suatu pertemuan informal di negaranya. Undangan tersebut di
terima baik oleh semua pimpinan pemerintah negara yang diundang.
Pertemuan yang kemudian disebut Konferensi Kolombo itu
dilaksanakan pada tanggal 28 April sampai dengan 2 Mei 1954. konferensi ini
membicarakan masalah-masalah yang menjadi kepentingan bersama.
Yang menarik perhatian para peserta konferensi, diantaranya
pernyataan yang diajukan oleh Perdana Menteri Indonesia :
“Where do we stand now, we the peoples of Asia , in this world of
ours to day?” (“Dimana sekarang kita berdiri, bangsa Asia sedang berada di
tengah-tengah persaingan dunia?”), kemudian pernyataan tersebut dijawab sendiri
dengan menyatakan:
“We have noe indeed at the cross-roads of the historyof mankind.
It is therefore that we Prime Minister of five Asian countries are meeting here
to discuss those crucial problems whice urge Indonesia to propose that another
conference be convened wide3r in scope, between the African and Asian Nations.
I am convined that the problems are not only convened to the Asian countries
represented here but also are of equal importance to the Afrika and other Asian
countries”.
(Kita sekarang berada dipersimpangan jalan sejatah umat manusia.
Oleh karena itu kita Lima Perdana Menteri negara-negara Asia bertemu disini
untuk membicarakan masalah-masalah yang krusial yang sedang dihadapi oleh
masyarakat yang kita wakili. Ada beberapa hal yang mendorong Indonesia
mengajukan usulan untuk mengadakan pertemuan lain yang lebih luas, antara
negara-negara Afrika dan Asia . Saya percaya bahwa masalah-masalah itu tidak
terjadi hanya di negara-negara Asia yang terwakili disini, tetapi juga sama
pentingnya bagi negara-negara Afrika dan Asia lainnya”).
Pernyataan tersebut memberi arah kepada lahirnya Konferensi Asia
Afrika.
Selanjutnya, soal perlunya Konferensi Asia Afrika diadakan,
diajukan pula oleh Indonesia dalam sidang berikutnya. Usul itu akhirnya diterima
oleh semua konferensi, walaupun masih dalam suasana keraguan.
Perdana Menteri Indonesia pergi ke Kolombo untuk memenuhi undangan
Perdana Menteri Srilangka dengan membawa bahan-bahan hasil perumusan Pemerintah
Indonesia . Bahan-bahan tersebut merupakan hasil rapat dinas Kepala-kepala
Perwakilan Indonesia di negara-negara Asia dan Afrika yang dipimpin oleh
Menteri Luar Negeri Mr.Sunario. rapat dinas tersebut diadakan di tugu ( Bogor )
pada tanggal 9 Sampai dengan 22 Maret 1954.
Akhirnya, dalam pernyataan bersama pada akhir Konferensi Kolombo,
dinyatakan bahwa para Perdana Menteri peserta konferensi mkembicarakan kehendak
untuk mengadakan konferensi negara-negara Asia Afrika dan menyetujui usul agar
Perdana Menteri Indonesia dapat menjejaki sampai dimana kemungkinannya
mengadakan konferensi semacam itu.
USAHA-USAHA PERSIAPAN KONFERENSI
Konferensi Kolombo telah menugaskan Indonesia agar menjejaki
kemungkinan untuk diadakannya Konferensi Asia Afrika. Dalam rangka menunaikan
tugas itu Pemerintah Indonesia melakukan pendekatan melalui saluran diplomatic
kepada 18 negara Asia Afrika. Maksudnya, untuk mengetahui sejauh mana pendapat
negara-negara tersebut terhada ide mengadakan Konferensi Asia Afrika. Dalam
pendekatan tersebut dijelasakan bahwa tujuan utama konferense tersebut ialah
untuk membicarakan kepentingan bersama bangsa-bangsa Asia afrika pada saat itu,
mendorong terciptanya perdamaian dunia, dan mempromosikan Indonesia sebagai
tempat konferensi. Ternyata pada umumnya negara-negara yang dihubungi menyambut
baik ide tersebut dan menyetujui Indonesia sebagai tuan rumahnya, walaupun
dalam hal waktu dqn peserta konferensi terdapat berbagai pendapat yang berbeda.
Pada tanggal 18 Agustus 1954, Perdana Menteri Jawaharlal Nehru
dari India, melalui suratnya, mengingatkan Perdana Menteri Indonesia tentang
perkembangan situasi dunia dewasa ini yang semakin gawat, sehubungan dengan
adanya usul untuk mengadakan Konferensi Asia Afrika. Memang Perdana Menteri
India dalam menerima usul itu masih disertai keraguan akan berhasil-tidaknya
usul itu dilaksanakan. Barulah setelah kunjungan Perdana Menteri Indonesia pada
tanggal 25 September 1954, beliau yakin benar akan pentingnya diadakan
konferensi semacam itu, seperti tercermin dalam pernyataan bersama pada akhir
kunjungan Perdan Menteri Indonesia :
“The prime reprensentatives discussed also the proposal to have a
conference of representatives of Asians and African countries and were agreed
that a conference of this kind was desirble and world be helpful in promoting.
Is should be held at an early date”.
(“Para Perdana Menteri telah membicarakan usulan untuk mengadakan
sebuah konferensi yang mewakili negara-negara Asia dan Afrika serta menyetujui
konferensi seperti ini sangat diperlukan dan akan membantu terciptanya
perdamaian sekaligus pendekatan bersama ke arah masalah (yang dihadapi).
Hendaknya konferensi ini diadakan selekas mungkin”).
Keyakinan serupa dinyatakan pula oleh Perdana Menteri Birma U Nu
pada tanggal 28 september 1954.
Dengan demikian, maka usaha-usaha penyelidikan atas kemungkinan
diselenggarakannya Konferensi Asia Afrika dianggap selesai dan berhasil serta
usaha selanjutnya ialah mempersiapkan pelaksanaan konferensi itu.
Atas undangan Perdana Menteri Indonesia, para Perdan Menteri
peserta Konferensi Kolombo (Birma, Srilangka, India, Indonesia, dan Pakistan)
mengadakan Konferensi di Bogor pada tanggal 28 dan 29 Desember 1954, yang
dikenal dengan sebutan Konferensi Panca Negara. Konferensi ini membicarakan
persiapan pelaksanaan Konferensi Asia Afrika.
Konferensi Bogor berhasil merumuskan kesepakatan bahwa Konferensi
Asia Afrika diadakan atas penyelenggaraan bersama dan kelima negara peserta
konferensi tersebut menjadi negara sponsornya. Undangan kepada negara-negara
peserta disampaikan oleh Pemerintah Indonesia atas nama lima negara.
TUJUAN KONFERENSI
Konferensi Bogor menghasilkan 4 tujuan pokok Konferensi Asia
Afrika yaitu :
1. Untuk memajukan goodwill (kehendak yang luhur) dan kerjasama
antar bangsa-bangsa Asia dan Afrika , untuk menjelajah serta memajukan kepentingan-kepentingan
mereka , baik yang silih ganti maupun yang bersama, serta untuk menciptakan dan
memajukan persahabatan serta perhubungan sebagai tetangga baik.
2. Untuk mempertimbangkan soal-soal serta hubungan-hubungan di
lapangan social , ekonomi , dan kebudayaan Negara yang diwakili.
3. Untuk mempertimbangkan soal-soal yang berupa kepentingan khusus
bangsa-bangsa Asia dan Afrika, misalnya soal-soal yang mengenai kedaulatan
nasional dan tentang masalah-masalah rasialisme dan kolonialisme.
4. Untuk meninjau kedudukan Asia dan Afrika , serta
rakyat-rakyatnya didalam dunis dewasa ini serta sumbangan yang dapat mereka
berikan guna memajukan perdamaian serta kerja sama didunia.
PESERTA DAN WAKTU KONFERENSI
Negara-negara yang diundang disetujui berjumlah 25 negara.yaitu :
Afganistan, Kamboja, Federasi Afrika Tengah, Republik Rakyat Tiongkok (China),
Mesir, Ethiopia, Pantai Emas (Gold Coast), Iran, Irak, Jepang, Yordania, Laos,
Libanon, Liberia, Libya, Nepal, Filipina, Saudi Arabia, Sudan, Syria, Thailand
(Muang thai), Turki, Republik Demokrasi Vietnam (Vietnam Utara), Vietnam
Selatan, dan Yaman . Waktu Konferensi ditetapkan pada minggu terakhir April
1995.
Mengingat Negara-negara yang akan diundang mempunyai politik luar
negeri serta system politik dan social yang berbeda-beda.Konferensi Bogor
menentukan bahwa menerima undangan untuk turut dalam konferensi Asia Afrika
tidak berarti bahwa Negara peserta tersebut akan berubah atau dianggap berubah
pendiriannya mengenai status dari negara-negara lain.Konferensi menjunjung
tinggi pula asas bahwa bentuk pemerintahan atau cara hidup sesuatu negara
sekali-sekali tidak akan dapat dicampuri oleh negara lain.Maksud utama
konferensi ialah supaya negara-negara peserta menjadi lebih saling mengetahui
pendirian mereka masing-masing
PELAKSANAAN KAA 1955
Gedung Dana Pensiun dipersiapkan sebagai tempat sidang-sidang
Konferensi . Hotel Homann, Hotel Preanger, dan 12 (duabelas) hotel lainnya
serta perumahan perorangan dan pemerintah dipersiapkan pula sebagai tempat
menginap para tamu yang berjumlah 1300 orang.
Keperluan transport dilayani oleh 143 mobil, 30 taksi, 20 bus,
dengan jumlah 230 sopir dan 350 ton bensin tiap hari serta cadangan 175 ton
bensin.
Dalam kesempatan memeriksa persiapan-persiapan terakhir di Bandung
pada tanggal 17 April 1955, Presiden RI Soekarno meresmikan penggantian nama
Gedung Concordia menjadi Gedung Merdeka, Gedung Dana Pensiun menjadi Gedung Dwi
Warna, dan sebagian Jalan Raya Timur menjadi Jalan Asia Afrika. Penggantian
nama tersebut dimaksudkan untuk lebih menyemarakkan konferensi dan menciptakan
suasana konferensi yang sesuai dengan tujuan konferensi.
Pada tanggal 15 Januari 1955, surat undangan Konferensi Asia
Afrika dikirimkan kepada Kepala Pemerintahan 25 (dua puluh lima ) negara Asia
dan Afrika. Dari seluruh negara yang diundang hanya satu negara yang menolak
undangan itu, yaitu Federasi Afrika Tengah (Central African Federation), karena
memang negara itu masih dikuasai oleh orang-orang bekas penjajahnya. Sedangkan
24 (dua puluh empat) negara lainnya menerima baik undangan itu, meskipun0pada
mulanya ada negara yang masih ragu-ragu. Sebagian besar delegasi peserta
konferensi tiba di Bandung lewat Jakarta pada tanggal 16 April 1955.
Dalam penutup komunike terakhir dinyatakan bahwa Konferensi Asia
Afrika menganjurkan menganjurkan supaya kelima negara penyelenggara
mempertimbangkan untuk diadakan pertemuan berikutnya dari konferensi ini,
dengan meminta pendapat negara-negara pesreta lainnya. Tetapi usaha untuk
mengadakan Konferensi Asia Afrika kedua sesalu mengalami hambatan ying sulit
diatasi. Tatkala usaha itu hampir terwujud (1964), tiba-tiba di negara tuan
rumah (Aljazair) terjadi pergantian pemerintahan, sehingga konferensi itu jadi.
Konferensi Asia Afrika di Bandung, telah berhasil menggalang
persatuan dan kerja sama di antara negara-negara Asia dan Afrika,baik dalam
menghadapi masalah internasional maupun masalah regiobal . Konferensi serupa
bagi kalangan tertentu di Asia dan Afrika beberapa lkali diadakan pula, seperti
Konferensi Wartawan Asia Afrika , Konferensi Islam Asia Afrika, Konferensi
Pengarang Asia Afrika, dan Konferensi Mahasiswa Asia Afrika./o:p>
Konferensi Asia Afrika telah membakar semangat dan menambah
kekuatan moral para pejuang bangsa-bangsa Asia da Afrika yang pada masa itu
tengah memperjuangkan kemerdekaan tanah air mereka, sehingga kemudian lahirlah
sejumlah negara merdeka dibenua Asia dan Afrika. Semua itu menandakan bahwa
ciat-cita dan semangat Dasa Siala Bandung semakin merasuk kedalam tubuh
bangsa-bangsa Aia dan Afrika.
Jiwa Bandung dengan Dasa Silanya telah mengubah pandangan dunia
tentang hubungan internasional. Bandung telah melahirkan faham Dunia Ketiga
atau “ Non-Aligned”terhadap dunia pertamanya Washington dan Dunia keduanya
Moscow Jawa Bandung telah mengubah juga struktur perserikatan Bangsa-bangsa
(PBB). Forum PBB bukan lagi forum eksklusif Barat dan Timur.
Sebagai penutup uraian singkat ini, dikutip bagian terakhir pidato
penutupan Ketua Konferensi Asuia Afrika sebagai berikut : “May we continue on
the way we have taken together and may the Bandung Conference stay as a beacom
guiding the future progress of Asia and Afrika”
( “ Semoga kita dapat meneruskan perjalanan kita diatas jalan yang
telah kita pilih bersama-sama dan semoga Konferensi Bandung ini tetap tegak
sebagai sebuah mercusuar yang membimbing kemajuan dimasa depan dari Asia dan
Afrika “)
KOMENIKE AKHIR KONFERENSI ASIA AFRIKA
Konferensi Asia Afrika bersidang di Bandung dari tanggal 18 sampai
24 April 1955, atas undangan dari para Perdana Menteri Birma, Srilanka , India
, Indonesia , dan Pakistan . Kecuali negara-negara sponsor, konferensi ini juga
dihadiri oleh 24 negara sebagai berikut :
1. Kamboja
2. Republik Rakyat Cina
3. Ethkopia
4. Pantai Emas
5. Iran
6. Irak
7. Jepang
8. Yordania
9. Laos
10. Lebanon
11. Liberia
12. Libya
13. Nepal
14. Filipina
15. Saudi Arabia
16. Sudan
17. Syiria
18. Muang Thai
19. Turki
20. Republik Demokrasi Viet-Nam
21. Viet-nam Selatan
22. Yaman
23. Afganistan
24. Mesir
2. Republik Rakyat Cina
3. Ethkopia
4. Pantai Emas
5. Iran
6. Irak
7. Jepang
8. Yordania
9. Laos
10. Lebanon
11. Liberia
12. Libya
13. Nepal
14. Filipina
15. Saudi Arabia
16. Sudan
17. Syiria
18. Muang Thai
19. Turki
20. Republik Demokrasi Viet-Nam
21. Viet-nam Selatan
22. Yaman
23. Afganistan
24. Mesir
Konferensi Asia Afrika membicarakan masalah-masalah yang menjadi
perhatian dan kepentingan bersama negara-negara Asia dan Afrika dan membahas
cara-cara dan upaya-upaya agar rakyat mereka dapat mencapai kerjasama ekonomi ,
kebudayaan, dan politik yang lebih erat.
1. KERJASAMA EKONOMI
2. KERJASAMA KEBUDAYAAN
3. HAK-HAK ASASI MANUSIA DAN HAK MENENTUKAN NASIB SENDIRI
4. MASALAH RAKYAT-RAKYAT YANG BELUM MERDEKA
5. MASALAH-MASALAH LAINNYA
6. PENINGKATAN PERDAMAIAN DAN KERJASAMA DUNIA
7. DEKLARASI TENTANG PENINGKATAN PERDAMAIAN DAN KERJASAMA DUNIA
2. KERJASAMA KEBUDAYAAN
3. HAK-HAK ASASI MANUSIA DAN HAK MENENTUKAN NASIB SENDIRI
4. MASALAH RAKYAT-RAKYAT YANG BELUM MERDEKA
5. MASALAH-MASALAH LAINNYA
6. PENINGKATAN PERDAMAIAN DAN KERJASAMA DUNIA
7. DEKLARASI TENTANG PENINGKATAN PERDAMAIAN DAN KERJASAMA DUNIA
Konferensi Asia Afrika menyatakan keyakinannya, bahwa kerukunan
kerjasama yang sesuai dengan prinsip-prinsip tersebut akan memberikan sumbangan
yang berhasilguna bagi pemeliharaan dan peningkatan perdamaian dan keamanan
internasional, sedang bekerjasama dibidang ekonomi, sosial dan kebudayaan akan
membantu terciptanya kesejahteraan dan kemakmuran semua.
Konferensi Asia Afrika menganjurkan agar kelima negara sponsor
memikirkan penyelenggaraan konferensi berikutnya, setelah berkonsultasi dengan
negara-negara peserta.
Rabu, 18 April 2012
23.39
No comments
Biografi Buya HAMKA
BIOGRAFI : INDONESIA, TOKOH AGAMA

Biografi Buya HAMKA dari Biografi Web
Hamka juga diberikan sebutan Buya, yaitu panggilan buat orang Minangkabau yang berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa Arab, yang berarti ayahku, atau seseorang yang dihormati. Ayahnya adalah Syekh Abdul Karim bin Amrullah, yang dikenal sebagai Haji Rasul, yang merupakan pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun 1906. Beliau dibesarkan dalam tradisi Minangkabau. Masa kecil HAMKA dipenuhi gejolak batin karena saat itu terjadi pertentangan yang keras antara kaum adat dan kaum muda tentang pelaksanaan ajaran Islam. Banyak hal-hal yang tidak dibenarkan dalam Islam, tapi dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Putra HAMKA bernama H. Rusydi HAMKA, kader PPP, anggota DPRD DKI Jakarta. Anak Angkat Buya Hamka adalah Yusuf Hamka, Chinese yang masuk Islam.RIWAYAT PENDIDIKAN HAMKA
HAMKA di Sekolah Dasar Maninjau hanya sampai kelas dua. Ketika usia 10 tahun, ayahnya telah mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ HAMKA mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. HAMKA juga pernah mengikuti pengajaran agama di surau dan masjid yang diberikan ulama terkenal seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjopranoto dan Ki Bagus Hadikusumo.Sejak muda, HAMKA dikenal sebagai seorang pengelana. Bahkan ayahnya, memberi gelar Si Bujang Jauh. Pada usia 16 tahun ia merantau ke Jawa untuk menimba ilmu tentang gerakan Islam modern kepada HOS Tjokroaminoto, Ki Bagus Hadikusumo, RM Soerjopranoto, dan KH Fakhrudin. Saat itu, HAMKA mengikuti berbagai diskusi dan training pergerakan Islam di Abdi Dharmo Pakualaman, Yogyakarta.
RIWAYAT KARIER HAMKA
HAMKA bekerja sebagai guru agama pada tahun 1927 di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan. Pada tahun 1929 di Padang Panjang, HAMKA kemudian dilantik sebagai dosen di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padang Panjang dari tahun 1957- 1958. Setelah itu, beliau diangkat menjadi rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta dan Profesor Universitas Mustopo, Jakarta.Sejak perjanjian Roem-Royen 1949, ia pindah ke Jakarta dan memulai kariernya sebagai pegawai di Departemen Agama pada masa KH Abdul Wahid Hasyim. Waktu itu HAMKA sering memberikan kuliah di berbagai perguruan tinggi Islam di Tanah Air.
Dari tahun 1951 hingga tahun 1960, beliau menjabat sebagai Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama Indonesia. Pada 26 Juli 1977 Menteri Agama Indonesia, Prof. Dr. Mukti Ali, melantik HAMKA sebagai Ketua Umum Majlis Ulama Indonesia tetapi beliau kemudian meletakkan jabatan itu pada tahun 1981 karena nasihatnya tidak dipedulikan oleh pemerintah Indonesia.
RIWAYAT ORGANISASI HAMKA
HAMKA aktif dalam gerakan Islam melalui organisasi Muhammadiyah. Beliau mengikuti pendirian Muhammadiyah mulai tahun 1925 untuk melawan khurafat, bid’ah, tarekat dan kebatinan sesat di Padan g Panjang. Mulai tahun 1928 beliau mengetuai cabang Muhammadiyah di Padang Panjang. Pada tahun 1929 HAMKA mendirikan pusat latihan pendakwah Muhammadiyah dan dua tahun kemudian beliau menjadi konsul Muhammadiyah di Makassar. Kemudian beliau terpilih menjadi ketua Majelis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat oleh Konferensi Muhammadiyah, menggantikan S.Y. Sutan Mangkuto pada tahun 1946. Pada tahun 1953, HAMKA dipilih sebagai penasihat pimpinan Pusat Muhammadiyah.AKTIVITAS POLITIK HAMKA
Kegiatan politik HAMKA bermula pada tahun 1925 ketika beliau menjadi anggota partai politik Sarekat Islam. Pada tahun 1945, beliau membantu menentang usaha kembalinya penjajah Belanda ke Indonesia melalui pidato dan menyertai kegiatan gerilya di dalam hutan di Medan. Pada tahun 1947, HAMKA diangkat menjadi ketua Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia.Pada tahun 1955 HAMKA beliau masuk Konstituante melalui partai Masyumi dan menjadi pemidato utama dalam Pilihan Raya Umum. Pada masa inilah pemikiran HAMKA sering bergesekan dengan mainstream politik ketika itu. Misalnya, ketika partai-partai beraliran nasionalis dan komunis menghendaki Pancasila sebagai dasar negara. Dalam pidatonya di Konstituante, HAMKA menyarankan agar dalam sila pertama Pancasila dimasukkan kalimat tentang kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknyan sesuai yang termaktub dalam Piagam Jakarta. Namun, pemikiran HAMKA ditentang keras oleh sebagian besar anggota Konstituante, termasuk Presiden Sukarno. Perjalanan politiknya bisa dikatakan berakhir ketika Konstituante dibubarkan melalui Dekrit Presiden Soekarno pada 1959. Masyumi kemudian diharamkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1960. Meski begitu, HAMKA tidak pernah menaruh dendam terhadap Sukarno. Ketika Sukarno wafat, justru HAMKA yang menjadi imam salatnya. Banyak suara-suara dari rekan sejawat yang mempertanyakan sikap HAMKA. "Ada yang mengatakan Sukarno itu komunis, sehingga tak perlu disalatkan, namun HAMKA tidak peduli. Bagi HAMKA, apa yang dilakukannya atas dasar hubungan persahabatan. Apalagi, di mata HAMKA, Sukarno adalah seorang muslim.
Dari tahun 1964 hingga tahun 1966, HAMKA dipenjarakan oleh Presiden Soekarnokarena dituduh pro-Malaysia. Semasa dipenjarakan, beliau mulai menulis Tafsir al-Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya. Setelah keluar dari penjara, HAMKA diangkat sebagai anggota Badan Musyawarah Kebajikan Nasional, Indonesia, anggota Majelis Perjalanan Haji Indonesia dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional Indonesia.
Pada tahun 1978, HAMKA lagi-lagi berbeda pandangan dengan pemerintah. Pemicunya adalah keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef untuk mencabut ketentuan libur selama puasa Ramadan, yang sebelumnya sudah menjadi kebiasaan.
Idealisme HAMKA kembali diuji ketika tahun 1980 Menteri Agama Alamsyah Ratuprawiranegara meminta MUI mencabut fatwa yang melarang perayaan Natal bersama. Sebagai Ketua MUI, HAMKA langsung menolak keinginan itu. Sikap keras HAMKA kemudian ditanggapi Alamsyah dengan rencana pengunduran diri dari jabatannya. Mendengar niat itu, HAMKA lantas meminta Alamsyah untuk mengurungkannya. Pada saat itu pula HAMKA memutuskan mundur sebagai Ketua MUI.
AKTIVITAS SASTRA HAMKA
Selain aktif dalam soal keagamaan dan politik, HAMKA merupakan seorang wartawan, penulis, editor dan penerbit. Sejak tahun 1920-an, HAMKA menjadi wartawan beberapa buah akhbar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, beliau menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makasar. HAMKA juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam.HAMKA juga menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya kreatif seperti novel dan cerpen. Karya ilmiah terbesarnya ialah Tafsir al-Azhar (5 jilid). Pada 1950, ia mendapat kesempatan untuk melawat ke berbagai negara daratan Arab. Sepulang dari lawatan itu, HAMKA menulis beberapa roman. Antara lain Mandi Cahaya di Tanah Suci, Di Lembah Sungai Nil, dan Di Tepi Sungai Dajlah. Sebelum menyelesaikan roman-roman di atas, ia telah membuat roman yang lainnya. Seperti Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Merantau ke Deli, dan Di Dalam Lembah Kehidupan merupakan roman yang mendapat perhatian umum dan menjadi buku teks sastera di Malaysia dan Singapura. Setelah itu HAMKA menulis lagi di majalah baru Panji Masyarakat yang sempat terkenal karena menerbitkan tulisan Bung Hatta berjudul Demokrasi Kita.
AKTIVITAS KEAGAMAAN
Setelah peristiwa 1965 dan berdirinya pemerintahan Orde Baru, HAMKA secara total berperan sebagai ulama. Ia meninggalkan dunia politik dan sastra. Tulisan-tulisannya di Panji Masyarakat sudah merefleksikannya sebagai seorang ulama, dan ini bisa dibaca pada rubrik Dari Hati Ke Hati yang sangat bagus penuturannya. Keulamaan HAMKA lebih menonjol lagi ketika dia menjadi ketua MUI pertama tahun 1975.HAMKA dikenal sebagai seorang moderat. Tidak pernah beliau mengeluarkan kata-kata keras, apalagi kasar dalam komunikasinya. Beliau lebih suka memilih menulis roman atau cerpen dalam menyampaikan pesan-pesan moral Islam.
Ada satu yang sangat menarik dari Buya HAMKA, yaitu keteguhannya memegang prinsip yang diyakini. Inilah yang membuat semua orang menyeganinya. Sikap independennya itu sungguh bukan hal yang baru bagi HAMKA. Pada zamam pemerintah Soekarno, HAMKA berani mengeluarkan fatwa haram menikah lagi bagiPresiden Soekarno. Otomatis fatwa itu membuat sang Presiden berang ’kebakaran jenggot’. Tidak hanya berhenti di situ saja, HAMKA juga terus-terusan mengkritik kedekatan pemerintah dengan PKI waktu itu. Maka, wajar saja kalau akhirnya dia dijebloskan ke penjara oleh Soekarno. Bahkan majalah yang dibentuknya ''Panji Masyarat'' pernah dibredel Soekarno karena menerbitkan tulisan Bung Hatta yang berjudul ''Demokrasi Kita'' yang terkenal itu. Tulisan itu berisi kritikan tajam terhadap konsep Demokrasi Terpimpin yang dijalankan Bung Karno. Ketika tidak lagi disibukkan dengan urusan-urusan politik, hari-hari HAMKA lebih banyak diisi dengan kuliah subuh di Masjid Al-Azhar, Jakarta Selatan.
WAFATNYA HAMKA
Pada tanggal 24 Juli 1981 HAMKA telah pulang ke rahmatullah. Jasa dan pengaruhnya masih terasa sehingga kini dalam memartabatkan agama Islam. Beliau bukan sahaja diterima sebagai seorang tokoh ulama dan sastrawan di negara kelahirannya, bahkan jasanya di seantero Nusantara, ter masuk Malaysia dan Singapura, turut dihargai.PENGHARGAAN
Atas jasa dan karya-karyanya, HAMKA telah menerima anugerah penghargaan, yaitu Doctor Honoris Causa dari Universitas al-Azhar Cairo (tahun 1958), Doctor Honoris Causa dari Universitas Kebangsaan Malaysia (tahun 1958), dan Gelar Datuk Indono dan Pengeran Wiroguno dari pemerintah IndonesiaPANDANGAN HAMKA TENTANG KESASTRAAN
Pandangan sastrawan, HAMKA yang juga dikenal sebagai Tuanku Syekh Mudo Abuya Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah Datuk Indomo tentang kepenulisan. Buya HAMKA menyatakan ada empat syarat untuk menjadi pengarang. Pertama, memiliki daya khayal atau imajinasi; kedua, memiliki kekuatan ingatan; ketiga, memiliki kekuatan hapalan; dan keempat, memiliki kesanggupan mencurahkan tiga hal tersebut menjadi sebuah tulisan.BUAH PENA BUYA HAMKA
Kitab Tafsir Al-Azhar merupakan karya gemilang Buya HAMKA. Tafsir Al-Quran 30 juz itu salah satu dari 118 lebih karya yang dihasilkan Buya HAMKA semasa hidupnya. Tafsir tersebut dimulainya tahun 1960.HAMKA meninggalkan karya tulis segudang. Tulisan-tulisannya meliputi banyak bidang kajian: politik (Pidato Pembelaan Peristiwa Tiga Maret, Urat Tunggang Pancasila), sejarah (Sejarah Ummat Islam, Sejarah Islam di Sumatera), budaya (Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi), akhlak (Kesepaduan Iman & Amal Salih ), dan ilmu-ilmu keislaman (Tashawwuf Modern).
21.53
No comments
SEJARAH PRAMUKA DUNIA

Pencetus berdirinya Gerakan Pramuka sedunia adalah Lord Bodden Powell. Beliau dilahirkan pada tanggal 22 Februari 1857 di London, Inggris. Nama sesungguhnya ialah Robert Stepenshon Smyth. Ayahnya adalah seorang Profesor Geometri di Universitas Oxford bernama Boden Powell yang meninggal ketika Stepenshon masih kecil.Lahirnya pendidikan Gerakan Pramuka diilhami oleh pengalamanpengalaman semasa hidupnya diantaranya adalah :a. Ditinggal ayahnya sejak kecil dan mendapat pembinaan watak dari ibunya.
b. Latihan keterampilan berlayar, berenang, berkemah, olahraga dan lain lainnya didapat dari kakak-kakaknya.
c. Boden Powell sangat disenangi teman-temannya karena selalu gembira, lucu, cerdas, suka bermain musik, bersandiwara, mengarang dan menggambar.
d. Pengalaman di India sebagai Letnan Ass (pembantu Letnan) pada Resimen 13 Kavaleri yang berhasil mengikuti jejak kuda yang hilang. Dan ditemukan di puncak gunung, serta keberhasilan melatih panca indra kepada Kimball O’Hara.
e. Pengalaman terkepung Bangsa Boer di Kota Mafeking, Afrika Selatan selama 127 hari dan kekurangan makan.
f. Pengalaman mengalahkan Kerajaan Zulu di Afrika dan mengambil kalung manik kayu milik Raja Dinizulu.Semua pengalaman hidupnya ditulis dalam sebuah buku yang berjudul ‘Aids to Scouting’. Buku ini sebenarnya berisikan petunjuk petunjuk kepada tentara muda inggris agar dapat melakukan tugas penyelidikan dengan baik. Buku ini sangat menarik bukan hanya bagi para pemuda bahkan juga orang dewasa.Seorang pemimpin Boys Brigade di Inggris yang bernama tuan William Smyth meminta beliau untuk melatih anggotanya sesuai dengan cerita-cerita pengalaman beliau yang terdapat dalam buku ‘Aids to Scouting’. Akhirnya dipanggillah 21 pemuda dari Boys Brigade dari berbagai wilayah negeri Inggris untuk diajak berkemah dan berlatih di pulau Brownsea pada tanggal 25 Juli 1907 selama 8 hari. Pada tahun 1901 beliau meminta pensiun dari tentara dengan pangkat terakhir Letnan Jendral. Pada tahun 1929, beliau mendapat titel Lord dari Raja George. Beliau menikah dengan Olave St Clair Soames dan dianugrahi 3 orang anak. Beliau meninggal pada tanggal 8 Januari 1941 di Nyeri, Kenya, Afrika.
B. Tahun-tahun Penting Dalam Sejarah Kepramukaan Dunia
Awal tahun 1908 Bodden Powell menulis pengalamannya dalam sebuah buku yang berjudul ‘Scouting For Boys’, buku ini sebagai pembungkus acara latihan kepramukaan yang dirintisnya. Pada mulanya latihan ini ditujukan kepada anak laki-laki usia penggalang yang disebut Boys Scout. Tetapi kemudian atas bantuan Agnes adik perempuannya didirikan sebuah organisasi kepramukaan putri yang diberi nama Girl Guides yang kemudian dilanjutkan oleh Nyonya Boden Powell.
b. Tahun 1914 Bodel Powell mulai menulis petunjuk untuk kursus pembina Pramuka. Rencana ini baru dapat dilaksanakan pada tahun 1919. Dari sahabatnya yang bernama W.F.de Bois Macleren, Boden Powell mendapat sebidang tanah di Chingford, yang digunakan sebagai tempat pendidikan pembina Pramuka. Tempat ini terkenal dengan nama Gillwel Park.
c. Tahun 1916 berdiri kelompok pramuka usia siaga yang disebut CUB (Anak Serigala) dengan buku The Jungle Book, berisi tentang cerita Mowgli anak didikan rimba (anak yang dipelihara di hutan oleh induk serigala) karangan Rudy Kipling sebagai cerita pembungkus kegitan CUB tersebut.
d. Tahun 1918 Boden Powell membentuk Rover Scout (Pramuka usia penegak).
e. Tahun 1920 diselenggarakan Jambore se-Dunia yang pertama di Arena Olympia, London. Boden Powell telah mengundang pramuka dari 27 negara yang pada saat itu Boden Powell diangkat sebagai Bapak Pandu Sedunia.
f. Tahun 1922 Boden Powell menerbitkan buku ‘Rovering to Success’ (Mengembara menuju bahagia), yang berisi petunjuk bagi pramuka penegak dalam menghadapi hidupnya.
g. Pada tahun 1920 dibentuk dewan internasional dengan 9 orang anggota dan biro sekretariatnya berada di London, Inggris.
h. Pada tahun 1958 Biro Kepramukaan se Dunia (putra) dipindahkan dari London ke Ottawa di Kanada.
i. Tanggal 1 Mei 1968 Biro Kepramukaan se Dunia (putra) dipindahkan lagi ke Genewa, Swiss. Sejak tahun 1920 sampai 1965 kepala Biro Kepramukaan se Dunia ini dipegang berturut-turut oleh Hubert Martin (Inggris), Kol J.S. Wilson (Inggris), Mayjen D.C Spry (Canada). Tahun 1965 DC Spray diganti oleh R.T Lund dan sejak 1968 sampai sekarang dipegang oleh DR. Lasza Nagy sebagai sekjen. Biro Kepramukaan sedunia (putra) hanya mempunyai 40 orang tenaga staf yang ada di Genewa dan di 5 kantor kawasan, yaitu di Costa Rica, Mesir, Philipine, Swiss dan Nigeria. Biro Kepramukaan sedunia putri sampai sekarang tetap berada di London dan juga mempunyai kantor di 5 kawasan yaitu Eropa, Asia Pasifik, Arab, Afrika dan Amerika Latin.
b. Tahun 1914 Bodel Powell mulai menulis petunjuk untuk kursus pembina Pramuka. Rencana ini baru dapat dilaksanakan pada tahun 1919. Dari sahabatnya yang bernama W.F.de Bois Macleren, Boden Powell mendapat sebidang tanah di Chingford, yang digunakan sebagai tempat pendidikan pembina Pramuka. Tempat ini terkenal dengan nama Gillwel Park.
c. Tahun 1916 berdiri kelompok pramuka usia siaga yang disebut CUB (Anak Serigala) dengan buku The Jungle Book, berisi tentang cerita Mowgli anak didikan rimba (anak yang dipelihara di hutan oleh induk serigala) karangan Rudy Kipling sebagai cerita pembungkus kegitan CUB tersebut.
d. Tahun 1918 Boden Powell membentuk Rover Scout (Pramuka usia penegak).
e. Tahun 1920 diselenggarakan Jambore se-Dunia yang pertama di Arena Olympia, London. Boden Powell telah mengundang pramuka dari 27 negara yang pada saat itu Boden Powell diangkat sebagai Bapak Pandu Sedunia.
f. Tahun 1922 Boden Powell menerbitkan buku ‘Rovering to Success’ (Mengembara menuju bahagia), yang berisi petunjuk bagi pramuka penegak dalam menghadapi hidupnya.
g. Pada tahun 1920 dibentuk dewan internasional dengan 9 orang anggota dan biro sekretariatnya berada di London, Inggris.
h. Pada tahun 1958 Biro Kepramukaan se Dunia (putra) dipindahkan dari London ke Ottawa di Kanada.
i. Tanggal 1 Mei 1968 Biro Kepramukaan se Dunia (putra) dipindahkan lagi ke Genewa, Swiss. Sejak tahun 1920 sampai 1965 kepala Biro Kepramukaan se Dunia ini dipegang berturut-turut oleh Hubert Martin (Inggris), Kol J.S. Wilson (Inggris), Mayjen D.C Spry (Canada). Tahun 1965 DC Spray diganti oleh R.T Lund dan sejak 1968 sampai sekarang dipegang oleh DR. Lasza Nagy sebagai sekjen. Biro Kepramukaan sedunia (putra) hanya mempunyai 40 orang tenaga staf yang ada di Genewa dan di 5 kantor kawasan, yaitu di Costa Rica, Mesir, Philipine, Swiss dan Nigeria. Biro Kepramukaan sedunia putri sampai sekarang tetap berada di London dan juga mempunyai kantor di 5 kawasan yaitu Eropa, Asia Pasifik, Arab, Afrika dan Amerika Latin.

Pencetus berdirinya Gerakan Pramuka sedunia adalah Lord Bodden Powell. Beliau dilahirkan pada tanggal 22 Februari 1857 di London, Inggris. Nama sesungguhnya ialah Robert Stepenshon Smyth. Ayahnya adalah seorang Profesor Geometri di Universitas Oxford bernama Boden Powell yang meninggal ketika Stepenshon masih kecil.Lahirnya pendidikan Gerakan Pramuka diilhami oleh pengalamanpengalaman semasa hidupnya diantaranya adalah :a. Ditinggal ayahnya sejak kecil dan mendapat pembinaan watak dari ibunya.
b. Latihan keterampilan berlayar, berenang, berkemah, olahraga dan lain lainnya didapat dari kakak-kakaknya.
c. Boden Powell sangat disenangi teman-temannya karena selalu gembira, lucu, cerdas, suka bermain musik, bersandiwara, mengarang dan menggambar.
d. Pengalaman di India sebagai Letnan Ass (pembantu Letnan) pada Resimen 13 Kavaleri yang berhasil mengikuti jejak kuda yang hilang. Dan ditemukan di puncak gunung, serta keberhasilan melatih panca indra kepada Kimball O’Hara.
e. Pengalaman terkepung Bangsa Boer di Kota Mafeking, Afrika Selatan selama 127 hari dan kekurangan makan.
f. Pengalaman mengalahkan Kerajaan Zulu di Afrika dan mengambil kalung manik kayu milik Raja Dinizulu.Semua pengalaman hidupnya ditulis dalam sebuah buku yang berjudul ‘Aids to Scouting’. Buku ini sebenarnya berisikan petunjuk petunjuk kepada tentara muda inggris agar dapat melakukan tugas penyelidikan dengan baik. Buku ini sangat menarik bukan hanya bagi para pemuda bahkan juga orang dewasa.Seorang pemimpin Boys Brigade di Inggris yang bernama tuan William Smyth meminta beliau untuk melatih anggotanya sesuai dengan cerita-cerita pengalaman beliau yang terdapat dalam buku ‘Aids to Scouting’. Akhirnya dipanggillah 21 pemuda dari Boys Brigade dari berbagai wilayah negeri Inggris untuk diajak berkemah dan berlatih di pulau Brownsea pada tanggal 25 Juli 1907 selama 8 hari. Pada tahun 1901 beliau meminta pensiun dari tentara dengan pangkat terakhir Letnan Jendral. Pada tahun 1929, beliau mendapat titel Lord dari Raja George. Beliau menikah dengan Olave St Clair Soames dan dianugrahi 3 orang anak. Beliau meninggal pada tanggal 8 Januari 1941 di Nyeri, Kenya, Afrika.
B. Tahun-tahun Penting Dalam Sejarah Kepramukaan Dunia
Awal tahun 1908 Bodden Powell menulis pengalamannya dalam sebuah buku yang berjudul ‘Scouting For Boys’, buku ini sebagai pembungkus acara latihan kepramukaan yang dirintisnya. Pada mulanya latihan ini ditujukan kepada anak laki-laki usia penggalang yang disebut Boys Scout. Tetapi kemudian atas bantuan Agnes adik perempuannya didirikan sebuah organisasi kepramukaan putri yang diberi nama Girl Guides yang kemudian dilanjutkan oleh Nyonya Boden Powell.
b. Tahun 1914 Bodel Powell mulai menulis petunjuk untuk kursus pembina Pramuka. Rencana ini baru dapat dilaksanakan pada tahun 1919. Dari sahabatnya yang bernama W.F.de Bois Macleren, Boden Powell mendapat sebidang tanah di Chingford, yang digunakan sebagai tempat pendidikan pembina Pramuka. Tempat ini terkenal dengan nama Gillwel Park.
c. Tahun 1916 berdiri kelompok pramuka usia siaga yang disebut CUB (Anak Serigala) dengan buku The Jungle Book, berisi tentang cerita Mowgli anak didikan rimba (anak yang dipelihara di hutan oleh induk serigala) karangan Rudy Kipling sebagai cerita pembungkus kegitan CUB tersebut.
d. Tahun 1918 Boden Powell membentuk Rover Scout (Pramuka usia penegak).
e. Tahun 1920 diselenggarakan Jambore se-Dunia yang pertama di Arena Olympia, London. Boden Powell telah mengundang pramuka dari 27 negara yang pada saat itu Boden Powell diangkat sebagai Bapak Pandu Sedunia.
f. Tahun 1922 Boden Powell menerbitkan buku ‘Rovering to Success’ (Mengembara menuju bahagia), yang berisi petunjuk bagi pramuka penegak dalam menghadapi hidupnya.
g. Pada tahun 1920 dibentuk dewan internasional dengan 9 orang anggota dan biro sekretariatnya berada di London, Inggris.
h. Pada tahun 1958 Biro Kepramukaan se Dunia (putra) dipindahkan dari London ke Ottawa di Kanada.
i. Tanggal 1 Mei 1968 Biro Kepramukaan se Dunia (putra) dipindahkan lagi ke Genewa, Swiss. Sejak tahun 1920 sampai 1965 kepala Biro Kepramukaan se Dunia ini dipegang berturut-turut oleh Hubert Martin (Inggris), Kol J.S. Wilson (Inggris), Mayjen D.C Spry (Canada). Tahun 1965 DC Spray diganti oleh R.T Lund dan sejak 1968 sampai sekarang dipegang oleh DR. Lasza Nagy sebagai sekjen. Biro Kepramukaan sedunia (putra) hanya mempunyai 40 orang tenaga staf yang ada di Genewa dan di 5 kantor kawasan, yaitu di Costa Rica, Mesir, Philipine, Swiss dan Nigeria. Biro Kepramukaan sedunia putri sampai sekarang tetap berada di London dan juga mempunyai kantor di 5 kawasan yaitu Eropa, Asia Pasifik, Arab, Afrika dan Amerika Latin.
b. Tahun 1914 Bodel Powell mulai menulis petunjuk untuk kursus pembina Pramuka. Rencana ini baru dapat dilaksanakan pada tahun 1919. Dari sahabatnya yang bernama W.F.de Bois Macleren, Boden Powell mendapat sebidang tanah di Chingford, yang digunakan sebagai tempat pendidikan pembina Pramuka. Tempat ini terkenal dengan nama Gillwel Park.
c. Tahun 1916 berdiri kelompok pramuka usia siaga yang disebut CUB (Anak Serigala) dengan buku The Jungle Book, berisi tentang cerita Mowgli anak didikan rimba (anak yang dipelihara di hutan oleh induk serigala) karangan Rudy Kipling sebagai cerita pembungkus kegitan CUB tersebut.
d. Tahun 1918 Boden Powell membentuk Rover Scout (Pramuka usia penegak).
e. Tahun 1920 diselenggarakan Jambore se-Dunia yang pertama di Arena Olympia, London. Boden Powell telah mengundang pramuka dari 27 negara yang pada saat itu Boden Powell diangkat sebagai Bapak Pandu Sedunia.
f. Tahun 1922 Boden Powell menerbitkan buku ‘Rovering to Success’ (Mengembara menuju bahagia), yang berisi petunjuk bagi pramuka penegak dalam menghadapi hidupnya.
g. Pada tahun 1920 dibentuk dewan internasional dengan 9 orang anggota dan biro sekretariatnya berada di London, Inggris.
h. Pada tahun 1958 Biro Kepramukaan se Dunia (putra) dipindahkan dari London ke Ottawa di Kanada.
i. Tanggal 1 Mei 1968 Biro Kepramukaan se Dunia (putra) dipindahkan lagi ke Genewa, Swiss. Sejak tahun 1920 sampai 1965 kepala Biro Kepramukaan se Dunia ini dipegang berturut-turut oleh Hubert Martin (Inggris), Kol J.S. Wilson (Inggris), Mayjen D.C Spry (Canada). Tahun 1965 DC Spray diganti oleh R.T Lund dan sejak 1968 sampai sekarang dipegang oleh DR. Lasza Nagy sebagai sekjen. Biro Kepramukaan sedunia (putra) hanya mempunyai 40 orang tenaga staf yang ada di Genewa dan di 5 kantor kawasan, yaitu di Costa Rica, Mesir, Philipine, Swiss dan Nigeria. Biro Kepramukaan sedunia putri sampai sekarang tetap berada di London dan juga mempunyai kantor di 5 kawasan yaitu Eropa, Asia Pasifik, Arab, Afrika dan Amerika Latin.















